Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2024

Rindu

 Kalo mendung hitam sudah di atas kepala jangan larang hujan turun ke bumi  Kalo angin bertiup dengan kencang nya jangan larang dau-daun kering berguguran Kalau senyummu selalu mekar dalam hatiku  Jangan larang aku tetap setia dan rindu padamu

Greget

Satu hal yang ku suka Ku senang melihat mu berbicara Tersenyum dan tertawa Ada sesuatu yang ku rasa Menggetarkan hal yang berbeda Andai kau tahu Ku suka bagian wajahmu  Yang napak seperti bolu Niatku ku hanya satu  Yaitu mencubit pipimu

Astek (Aku Sangat Tertarik)

Tak sengaja ku lihat bunga Ketika aku di atas menara Ku Pandangi secara seksama  Indah mu membuat ku bahagia Kau bunga yang sedang mekar Diantara rumput belukar Walaupun tak seindah mawar  Tetapi kau buat jiwaku bergetar

Kuah Sup

semangkuk kecil kuah sup dengan cecahan wortel dan kol menjadi pengantar tidur si anak gubuk dalam tidur, ditemuinya ayah wortel dan ibu kol di rumah mangkuk -keduanya sedang bercinta di dalam didih panci ia membisikkan ke kuping panci: kulumat kau, yah, sehabis-habisnya kuremah kau, bu, sepayah-letihnya namun selamanya ia merasa lapar di sela-sela giginya yang tinggal piatu

Kita Bahkan Kehilangan

  Kita bahkan kehilangan senja ini. Tak ada yang melihat kita jalan bergandengan tangan sementara malam yang biru ambruk ke dunia. Kulihat dari jendelaku pesta matahari tenggelam di puncak puncak pegunungan yang jauh. Kadang sepotong matahari terbakar seperti sebuah uang koin di antara tanganku. Aku mengenangmu dengan jiwaku tergenggam dalam kesedihanku yang sudah sangat kau tahu itu. Di mana kau waktu itu? Ada siapa lagi di situ? Bilang apa dia? Kenapa cinta mendatangiku tiba tiba di saat aku sedih dan merasa kau betapa jauhnya? Terjatuh buku yang biasanya dibaca setelah senja tiba Dan mantelku tergulung seperti seekor anjing yang terluka di dekat kakiku. Selalu, selalu kau mengabur lewat malam menuju ke mana senja pergi menghapus patung patung.

Pengayuh Rakit

Sebab segala yang mendatanginya selalu pergi setelah beberapa puluh hari sambil duduk mendekap lutut di tepian rakit, kepada air sungai yang penuh wajah matahari, pengayuh rakit meratapi perannya di kelahiran kali ini yang baginya, serupa sepetak tanah yang hanya layak ditanami sawi: tanah gembur dan berhumus di lapisan pertama, keras dan berbatu di lapis-lapis lainnya.  tak ada tanaman tahunan yang dapat subur di tanah seperti itu. mereka hidup tapi hidup seperti payung terkatup. pokok jati di belakang rumahnya semacam bukti: belasan tahun akar menjalar, tubuh hanya mampu setinggi lembu, daun kalah lebar dengan daun telinga anak gajah, lingkar batang lebih ramping daripada lingkar pinggang atlet renang. jati yang tumbuh terhambat kerap membuatnya ingat pada pohon cita-cita yang sejak kecil tertanam di ladang dada: batang kerdil, daun mungil, tiada buah meski sepentil.  sementara para sawi, di tanah itu, dengan panjang akar hanya beberapa senti mampu mencapai puncak hidup dala...